Kualitas Udara Buruk, PTM Hari Pertama Gagal, Siswa Dipulangkan
PALANGKA RAYA – Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sejumlah sekolah Kota Palangka Raya turut berdampak terhadap pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Jayani mengatakan, program MBG tidak berjalan ketika siswa mengikuti pembelajaran dari rumah.
“Kalau PJJ, MBG nggak jalan,” kata Jayani saat mendampingi kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di SDN 2 Petuk Ketimpun, Palangka Raya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Jayani, pelaksanaan MBG pada dasarnya berkaitan dengan aktivitas siswa di sekolah. Ketika siswa tidak hadir karena mengikuti PJJ, distribusi makanan bergizi gratis kepada peserta didik juga tidak berjalan seperti biasanya.
Meski demikian, Jayani menyebut terdapat sebagian pihak yang tetap siap melaksanakan mekanisme pengambilan makanan oleh orang tua siswa ke sekolah. “Ada memang sebagian yang siap, orang tuanya mengambil ke sekolah,” ujarnya.
Jayani menambahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi terkait pelaksanaan MBG apabila pembelajaran kembali dilakukan tatap muka. Sementara untuk siswa yang masih mengikuti PJJ, MBG belum dapat berjalan normal seperti ketika siswa di sekolah.
Sementara itu, pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sejumlah sekolah Palangka Raya kembali dihentikan. Baru memasuki hari pertama pelaksanaan, siswa terpaksa dipulangkan setelah indeks kualitas udara (AQI) memburuk dan kembali berada pada kategori tidak sehat, Kamis (10/9/2026).
Plt Kadisdik Palangka Raya Jayani mengatakan, penurunan kualitas udara menjadi pertimbangan utama sekolah dalam menghentikan PTM dan memulangkan siswa. “Kebetulan juga di saat kunjungan (wapres) ini memang kondisi kualitas udara agak menurun. Tadi di angka 2,5, di atas 2 itu sudah tidak sehat,” kata Jayani.
Menurut dia, sekolah yang sebelumnya telah menerapkan PTM terbatas langsung memulangkan siswa ketika kondisi udara memburuk. “Rata-rata sudah hampir semua sudah pulang di sekolah-sekolah di Kota Palangka Raya,” ujarnya.
Jayani menjelaskan, kebijakan PTM terbatas sebelumnya diberlakukan mempertimbangkan kualitas udara. Berdasarkan petunjuk teknis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sekolah masih diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Apabila kualitas udara kembali memburuk, pembelajaran harus dihentikan dan siswa kembali belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh. “Kalau kualitas udara memburuk, mereka harus dipulangkan dan kembali menerapkan PJJ,” tegasnya.
Ia menyebut, kualitas udara di Palangka Raya sangat fluktuatif. Jika angkanya berada di atas 200, kondisi tersebut masuk kategori sangat tidak sehat sehingga siswa harus kembali mengikuti pembelajaran dari rumah. (ifa/ens)
Dilihat 62
