ISPA di Kalteng Tercatat 77.760 Kasus


  • Dugaan Asap Telan Nyawa Satu Anak di Mura

PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng). Di balik pekatnya asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, 77.760 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah tercatat sepanjang Januari hingga Agustus 2026 di kabupaten/kota se-Kalteng.

Yang lebih mengkhawatirkan, lonjakan kasus ISPA terjadi signifikan memasuki Juli sampai Agustus, saat meningkatnya karhutla dan memburuknya kualitas udara menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Data ISPA tertinggi di Kota Palangka Raya yaitu 17.061 kasus. Diikuti Kotawaringin Barat 13.125 kasus, serta Kapuas 8.578 kasus dan Kotawaringin Timur 8.462 kasus. (selengkapnya lihat tabel).

Di Kabupaten Murung Raya, seorang anak berusia 11 tahun meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan kondisi kesehatannya terus menurun.

Kematian tersebut kini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kalteng. Sebab korban diketahui memiliki riwayat penyakit lain yang telah lama diderita dan kondisinya semakin memburuk ketika kabut asap melanda.

Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalteng Yaesarwawan mengatakan, pihaknya masih mengkaji dari sisi surveilans epidemiologi untuk memastikan hubungan paparan asap karhutla dengan kematian anak tersebut.

Namun dugaan sementara, ada indikasi keterkaitan. “Kalau ada korelasi antara kematian karena dampak asap karhutla, masih dalam pengkajian dari sisi surveilans epidemiologi. Tapi bila untuk pendugaan sementara berdasarkan surveilans epidemiologi, memang ada kaitan,” kata Yaesarwawan, Jumat (4/9/2026).

Korban diketahui kerap dibawa orangtuanya bekerja di lapangan. Saat sesak napas, korban sempat dibawa ke rumah sakit di Mura setelah terjadi penurunan kondisi kesehatan.

Riwayat penyakit yang telah lama diderita membuat kondisi korban semakin rentan. Situasi diperburuk oleh paparan asap ketika kualitas udara di Mura pada Agustus berada pada level tidak sehat hingga buruk.

Terkait  TP-PKK Gunung Mas Gelar Sunatan Massal, Sambut HUT ke-24 Kabupaten Gunung Mas

Bagi orang sehat saja kondisi tersebut berisiko. Terlebih bagi anak-anak maupun masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

Angka peningkatan kasus ISPA tersebut bukan sekadar statistik. Di tengah lonjakan kasus, muncul kasus berat hingga kematian yang kini sedang ditelusuri kaitannya dengan kondisi udara.

Asap karhutla bukan sekadar mengganggu pandangan dan menyesakkan napas. Hasil pembakaran hutan dan lahan membawa berbagai polutan berbahaya. Termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂).

Polutan tersebut dapat memicu atau memperburuk ISPA, asma, pneumonia, sesak napas, penurunan fungsi paru hingga iritasi mata.

Karena itu, ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat hingga buruk, kelompok rentan seperti anak-anak dan orang dengan penyakit penyerta berada dalam posisi paling berisiko.

Dinkes Kalteng belum menyatakan kematian anak 11 tahun tersebut secara definitif disebabkan asap karhutla. “Secara data kita tidak ada, kecuali hasil pendugaan sementara di atas,” ujar Yaesarwawan.

Artinya, penyebab kematian masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Namun satu hal sudah terang, yaitu 77.760 kasus ISPA telah menjadi alarm kesehatan bagi Kalteng. (ifa/ens)

Kasus ISPA di Kabupaten/Kota Se-Kalteng:
Palangka Raya : 17.061
Kotawaringin Barat : 13.125
Kapuas : 8.578
Kotawaringin Timur : 8.462
Barito Selatan : 5.751
Barito Timur : 5.636
Barito Utara : 5.335
Murung Raya : 3.713
Gunung Mas : 2.539
Lamandau : 2.378
Katingan : 1.845
Seruyan : 1.410
Pulang Pisau : 1.286
Sukamara : 641


Dilihat 8





Source link